Hallo ! Assalamualaikum ^_^ Izin
memperkenalkan diri nama saya Irma Warhamni Febriana, kelahiran 9 Februari
1999. Saya lahir dan besar di Kabupaten Magetan, salah satu kota wisata di Jawa
Timur. Dari TK sampai SMK (iya, saya lulusan SMK jurusan Akuntansi) bersekolah
di sekitar sini saja, tak jauh-jauh. Keluarga saya sederhana, dan saya bahagia
bisa terlahir di keluarga ini.
Banyak yang meminta saya untuk
menceritakan pengalaman bagaimana saya berjuang sampai lulus USM PKN STAN ,
baik melalui DM IG, chat WA, LINE, dan bahkan FB (FB yang sangat jarang saya buka). Baiklah, langsung saja. Masih
sangat saya ingat, saya mendaftar PTK (khususnya PKN STAN) pada tanggal 10
Maret 2017 pukul 12:27:31

Oiya,
pas tahun 2017 untuk jadwal pendaftarannya :


Tanggal
10 Maret 2017 kan udah daftar nih, terus isi formulir pendaftaran online
melalui situs PKN STAN. Dannnnnn ini dia BPO saya :

Zaman saya pendaftaran masih bisa
milih sampai 9 pilihan, beda dengan tahun 2018 yang hanya bisa milih 3 aja.
Lanjut setelah mendapat BPO langsung bayar ke bank Mandiri memakai kode MVA
yang ada di BPO. Nah, kan pendaftaran paling lambat 31 Maret 2017 pas buka
webnya panselnas total pendaftar di PKN STAN ada 166315 :” hm, bikin down?
Engga kok, karena wajar banyak. Tiap tahun juga banyak gitu kok.

Pada bulan Januari atau Februari ya
saya lupa, ada salah satu bimbel khusus untuk masuk PKN STAN yang promosi gitu,
saya sama ibu saya datang ke salah satu hotel di Magetan, tempat diadakannya
semacam seminar untuk promosi itu. Awalnya mereka nampilin gimana sih kuliah di
PKN STAN, akan jadi apa nanti kalau lulus, berapa besar gajinya,pokok semua
yang menggiurkan tentang PKN STAN. Otomatis saya dan ibu saya cukup tergiur lah
ya. Diakhir acara ditampilin program-program bimbelnya beserta harga yang
subhanallah sekali :” . Saya pengen daftar, ibu saya juga pengen daftarin saya,
tapi keputusan ada di tangan abang saya karena abang saya yang bekerja untuk
keluarga saya. Saya chat WA ke abang saya tapi tidak kunjung dibalas, okelah
pesen kursi dulu bayar 50 ribu.
Sesampainya di rumah saya ketemu abang
saya langsung, dan dengan sedikit sedih sih abang saya bilang belum ada uang
sebanyak itu untuk biaya bimbel tahun ini. “Kalau mau ya tahun depan, tahun ini
nyoba saja dulu abang yakin kamu pasti bisa,” kata abangku gitu. Kecewa sedikit
sih, tapi ya maua bagaimana lagi. Baiklah saya percaya kata-kata abang saya
kalau saya bisa walaupun belajar sendiri.
Beberapa hari kemudian, putra dari
guru SMK saya yang 2016 wisuda D3 Akuntansi PKN STAN menawarkan buku latihan
soal untuk USM PKN STAN. Harganya hanya Rp35.000,- Saya dan beberapa teman saya
pun memesan buku itu.
Selang beberapa hari bukunya sudah
dibawakan ke sekolah. Penasaran sekali dengan isinya, saya buka dan baca-baca.
Di halaman awal-awal seperti biasa banyak tips-tips dan sebagainya. Setelah itu
ada bebrapa paket latihan soal TPA dan TBI. Ya, hanya buku ini yang saya beli
untuk menunjang persiapan USM PKN STAN 2017.
Saya juga pernah mengikuti tryout yang
diadakan oleh lembaga bimbingan belajar asal Jawa Tengah (beda dengan yg
seminar tadi) lokasi tryoutnya di daerah Madiun. Bulan apa saya lupa.
Sepertinya sebelum saya punya buku USM itu. Saya datang ke lokasi bareng dengan
teman saya (teman saya ini sebenarnya
hanya menemani karena dia tidak minat kuliah, tapi alhamdulillah Oktober 2017
teman saya ini diterima di Bintara TNI AU). Saya mengerjakan asal-asalan
dan bahkan tidak ada yang kosong padahal ada nilai minusnya kalau salah :v begitu juga teman saya ini. Selang beberapa
hari pengumuman tryout keluar dannnnnn saya tidak lolos nilai mati. Sedih?
Tidak. Malah jadi motivasi saya untuk belajar.
Persiapan antara Ujian Sekolah, Ujian
Praktik, Ujian Nasional, USM PKN STAN, dan SBMPTN (untuk cadangan,hehe) sangat-sangat memusingkan kalau dipikir. Tapi
ya kalau dikerjakan ngga pusing pusing banget kok. Kalau menurut saya pribadi,
saya lebih memfokuskan prioritas. Prioritas saya adalah semua harus maksismal.
Jadi saya fokus ke satu demi satu ujian. Sesuai urutan jadwal. Harusnya saya
sambil nyicil belajar untuk USM, tapi tidak (jangan ditiru ya). Saya rasa juga persiapan USM saya sangat-sangat
minim. Saya belajar ketika selesai UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer).
Sebelumnya? Sebelumnya mungkin buku itu hanya saya buka sesekali.
Karena nomor urut BPO saya 681, maka
saya harus pergi ke Surabaya untuk verifikasi berkas pada tanggal 21 Maret
2017, ya hari pertama. Saya ke Surabaya bertiga dengan dua teman saya yang
mendapat jadwal sama.

Kami naik travel karena belum tau caranya naik
bus,hehe. Sampai di GKN Surabaya jam 5 pagi, masih subuh :” Kami bertiga shalat
subuh di mushala GKN, setelah itu cuci muka dan menyantap bekal sarapan kami.
Sebelum makan kami sudah ambil nomor antrean pada saat itu.

Tebak saya yang mana? :D Iya saya
yang tengah yaa... Kami tidak mengantre begitu lama karena mendapat nomor
antrean masih belasan. Sekitar jam 9 kami bertiga sudah selesai. Kami
menghubungi travel yang akan membawa kami pulang. Kami menunggu lama sampai jam
2 siang :” . Baiklah tidak apa-apa sesekali menunggu :) .
Saya SMK jurusan Akuntansi, tapi saya
lebih suka Matematika :) . Disitulah kekuatan saya, saya mengandalkan nilai
TPA. TBI? Momok bagi saya sebenarnya. Akhirnya karena keterbatasan saya di TBI
saya pun les di tetangga (guru SD yang
buka les-lesan khusus bahasa Inggris semua tingkat) H-seminggu. Namanya Pak
Sis. Pak Sis baik sekali dengan saya. Beliau mengajari saya TBI, latihan
soal-soal dsb, secara gratis. Waktu
itu keadaan ekonomi keluarga benar-benar menipis ditambah lagi harus keluar
biaya untuk ke lokasi USM di Surabaya.
USM PKN STAN 2017 diadakan pada
tanggal 23 April 2017 (mundur seminggu dari jadwal). Saya dan teman saya lokasi
ujiannya di UNTAG Surabaya. Saya berangkat pada 22 April 2012 bareng seorang
teman saya naik bus selama 5 jam kalau tidak salah dan turun di Terminal
Bungurasih Surabaya. First time kami naik bus ginian (bus yang bukan bus pariwisata) >.< . Di terminal kami
menunggu selama 2 jam. Menunggu saudara saya (Pak Dhe) yang akan kami tumpangi
rumahnya.
Malamnya, kami belajar hanya review
saja sedikit. Alasannya sudah lelah belajar, hehe. Langsung tidur agar besok
siap sedia.
Pagi sekali sekitar jam 5 kami sudah
siap dengan setelan hitam putih. Kami diantar oleh Pakdhe saya ke lokasi ujian.
Kurang 2 km sampai tapi jalanan malah macet :” deg-deg an sih karena kami belum
tau ruang dan meja kami. Akhirnya sampai juga di lokasi, dan kami salah gedung.
Bayangkan betapa bingungnya kami. Kami bertanya ke entah siapa kami tidak kenal
dan lantas diarahkan ke gedung seberang jalan. Setelah berterimakasih kami lari
dong, takut telat.
Sesampainya di ruangan yang sangat
besar, semacam aula mungkin, kami bingung mencari meja kami yang sesuai dengan
BPU milik masing-masing. Alhamdulillah beberapa saat kemudian ketemu. Meja saya
dan teman saya agak jauh jaraknya, tapi sama-sama urutan ketiga dari depan
(kalau tidak salah). Sebelah kiri saya sudah ada seorang laki-laki yang tidak
saya kenal, sementara sebelah kanan saya masih kosong. Penasaran lantas saya
baca namanya. Ternyata pemilik nama itu adalah teman dekat saya juga di
sekolah. Tapi dia belum sampai. Beberapa saat kemuadian dia sampai dan kami
sedikit berbincang. H-beberapa menit kami memutuskan untuk berwudhu agar ujian
kami lebih lancar. Pergilah kami ke toilet ruang itu. Antreannya panjang sekali
:( Dan kami putuskan untuk tayamum saja karena waktunya juga sudah mepet.
Kemudian kami kembali ke meja kami masing-masing.
Akhirnya ujian akan dimulai, doa-doa
saya lantunkan terus menerus sembari mendengarkan panitia membacakan peraturan.
Lembar jawaban dan naskah soal dibagikan. Saya isi identitas di lembar jawaban
dengan sangat hati-hati. Selanjutnya saya kerjakan soal-soal TPA sampai waktu
habis. Selanjutnya panitia membagikan soal TBI. Saya kerjakan semampu saya,
hanya saya jawab yang saya yakini benar, tidak semua saya jawab.
Berikut penampakan naskah USM yang
saya foto ketika ujian telah usai (naskah
soal saat itu boleh dibawa pulang).

Akhirnya pada tanggal berapa saya
lupa, pokok awal Mei 2017, pengumuman kelulusan tahap 1 keluar. Deg-degan
sekali bukanya. Alhamdulillah atas izin Sang Maha Kuasa nama saya tertulis di
pengumuman tersebut.
Di situ tertera jadwal TKK (Tes
Kesehatan dan Kebugaran) saya pada 8 Mei 2017. Selama menunggu pengumuman
tersebut saya sudah mempersiapkan diri. Olahraga tiap siang didampingi teman
saya (dia juga persiapan untuk masuk bintara saat itu), dia bilang harus siang
hari biar tubuh kuat. Saya percaya dan iyakan saja. Saya utamakan menguatkan
lari selama 12 menit karena itu yang cukup berat menurut saya di TKK ini.
Selain berolahraga, selama beberapa hari, di rumah saya minum jamu, telur ayam
kampung dicampur madu, untuk menambah stamina.
H-1 TKK saya pergi ke Surabaya seorang
diri (teman saya yang kemarin bareng
belum beruntung, dan yap saya harus mulai berani,hehe). Saya menginap di
rumah pakdhe saya lagi. Esoknya saya berangkat pukul 5 dan sampai di lokasi (Universitas
PGRI Adi Buana Surabaya Kampus Menanggal) sekitar setengah 6. Masih sangat pagi
bukan? Tapi ternyata saya mendapat nomor antrean 100 :”

Saya menunggu beberapa jam, lumayan
lama. Hm, maklum hari pertama. Akhirnya tibalah giliran saya untuk cek
kesehatan. Pertama TB dan BB, tensi, nadi, mata (minus atau tidak), dan tes
buta warna. Kedua harus mengantre lagi untuk masuk bilik-bilik. Saya dipanggil
dan disuruh masuk ke salah satu bilik yang kosong. Disana saya disuruh buka
jilbab (dokter dan yang ngebantu dokternya wanita juga kok). Kemudian dokter
mulai mengecek semuanya. Telinga, mulut, gigi, tenggorokan, mata, perut,
varises, hemoroid, dan kulit. Itu yang saya ingat. Setelah itu dokter
menuliskan hasilnya di selembar kertas. Saya merapikan jilbab lalu keluar bilik
dan menyerahkan lembar hasil pemeriksaan ke petugas yang ada. Alhamdulillah
saya lolos cek kesehatan dan diperbolehkan untuk mengikuti tes kebugaran.
Saya dan beberapa peserta lain
dibimbing oleh seorang pantia ke lapangan tempat tes kebugaran. Sesampainya di
lapangan kami diberi rompi bertuliskan angka masing-masing berbeda. Kami
melakukan pemanasan bersama. Setelah itu kami berbaris di garis start. Posisi
siap untuk berlari. Panitia memberi aba-aba. Apa kabar jantung? Jangan ditanya
lagi. Deg-degan gitulah. Tapi sesegera saya menenangkan diri sambil terus
berdoa. Peluit dibunyikan kami semua mulai berlari. Strategi saya seperti yang
lain. Tidak lambat juga tidak cepat tapi konsisten. Beruntungnya saya saat itu
jam 11 siang di Surabaya :” panas sekali. Sampai-sampai saya terbakar semangat.
Saat berlari yang saya pikirkan hanya senyum ibu saya dan senyum ayah saya.
Sudah. Sambil terus berdzikir. “Waktu tinggal satu menit,” teriak salah satu
panitia menggunakan megaphone. Sontak
membuat saya menambah kecepatan. 11 menit telah berlari di teriknya panas
matahari. Satu menit ini tidak akan saya sia-siakan. Saya berlari sekuat
tenaga, mengabaikan kaki yang meronta minta istirahat. Peluit dibunyikan tanda
waktu habis. Kami diminta melepaskan rompi yang kami pakai di tempat berdiri
kami sekarang. Oiya, pada saat setiap melewati garis start tadi kami harus
meneriakkan nomor rompi kami. Mungkin
panitia menggunakannya untuk menilai kekonsistenan kita dalam berlari. Tapi
kebenarannya saya tidak tahu karena hanya panitia dan Tuhanlah yang tahu
penilaian USM PKN STAN zaman saya :D beda dengan zaman sekarang yang nilainya
langsung keluar. Jadi sampai sekarang saya juga tidak tahu berapa nilai TPA dan
TBI saya.
Setelah beristirahat dan minum air
mineral di tenda yang disediakan panitia, kami memulai tes selanjutnya yaitu shuttle run,lari membentuk angka 8
sebanyak tiga kali. Berapa detik saya melakukannya? Saya sampai sekarang juga
tidak tahu. Pada saat itu saya bertanya ke panitia yang mengukur kecepatan saya
dan beliau hanya tersenyum menjawab, ”Sudahlah, aman” Misterius sekali. Setelah
itu saya beristirahat di masjid setempat dan kebetulan sudah memasuki waktu
zuhur sekalian saya menunaikan shalat zuhur di situ. Setelah selesai saya langsung
pulang ke rumah pakdhe.
Delapan hari kemudian, tepatnya hari
Selasa tanggal 16 Mei 2017, saya pergi ke Surakarta untuk mengikuti SBMPTN. Ya,
lagi-lagi seorang diri (naik bus).
Bagimana persiapan SBMPTN saya? Seadanya. Benar – benar seadanya karena
waktunya mepet dengan TKK kemarin. Seminggu persiapan dengan baca-baca PDF yang
bertebaran di grup-grup pejuang SBMPTN 2017 :D Hanya itu. Beli buku?
Tidak,hehe.
Pada akhir Mei, lupa tanggal berapa,
pengumuman tahap 2 keluar. Benar benar benar benar tidak menyangka di situ ada
nama saya :” saya sangat bersyukur. Saya mendapatkan jadwal SKD (Seleksi
Kompetensi Dasar) lagi lagi pada hari pertama.
Saya pergi ke Surabaya seperti biasa,
naik bus dan menginap di rumah Pakdhe. Saat itu pas puasa juga, tapi ya tetep
harus puasa. Jangan sengaja dibolongin Cuma gara-gara mau ujian :)
Pagi berangkat jam 5, tetap seperti
biasa. Tempatnya sama seperti ketika verifikasi berkas, di GKN Surabaya. Saya
dan semua peserta lainnya masuk ke suatu ruang untuk registrasi dan diberi
pengarahan. Oiya, bagaimana persiapan saya? Saya banyak mencari dan belajar
materi di internet serta PDF yang bertebaran di grup-grup pejuang STAN 2017 :D
Beli buku? Tidak.
Setelah memasuki waktu tes kami
masuk ke ruangan yang penuh dengan komputer, ya karena SKD kan online tesnya.
Kebetulan saya kebagian meja pojok belakang. Tidak apa-apa. Saya membuat diri
saya ssenyaman mungkin dan tak lupa terus berdoa. Sesuai arahan panitia, saya
mulai mengisi biodata dan menjawab soal demi soal. Setiap akan meng-klik jawaban,
saya selalu baca bismillah. Ada 3 macam soal yaitu TIU ( Tes Intelegensi Umum),
TWK (Tes Wawasan Kebangsaan), dan TKP (Tes Karakteristik pribadi). TIU dan TKP
masih bisa lah ya. Nah pas TWK? Subhanallah soalnya :” Melenceng dari materi
yang saya baca. Apa yang saya perbuat? Setiap akan menjawab 1 soal saya membaca
surah al-fatihah (dengan cepat).
Saya telah menjawab semua soal,
waktu masih tersisa. Depan saya, seoarang peserta laki-laki tiba-tiba menghela
napas panjang dan seperti orang lemas. Saya jadi deg-degan akan meng-klik
pilihan selesai. Saya baca banyak-banyak doa dulu, lalu saya klik selesai. Skor
keluar. Mata saya berkaca-kaca. Nilainya diluar perkiraan saya. Alhamdulillah
lulus nilai mati, lumayanlah.
Ternyata di luar ada layar yang
memampangkan nilai para peserta. Pakdhe saya yang menunggu saya diluar tanpa
saya beritahu sudah tahu nilai saya. Pakdhe memberi selamat kaera lulus nilai
mati. Yaa,walaupun belum tentu lulus perankingan nasional paling tidak masih
ada harapan. Saya masih sangat beruntung karena ada yang gagal ditempat, pasti
sangat menyakitkan.
Setelah
sekian lama saya menunggu, akhirnya pada hari Selasa tanggal 13 Juni 2017
pengumuman untuk hasil SBMPTN. Sementara PKN STAN masih besok Jumat tanggal 16
Juni 2017. Jam 14:00 saya mengakses laman resmi SBMPTN untuk melihat
pengumuman, dan hasilnya adalah :

Benar-benar alhamdulillah :”
Kamis, 15 Juni 2017 sekitar pukul 6
sore kurang, saya menunaikan shalat maghrib. Setelah selesai, entah beda dari
biasanya, saya belum melepas mukena saya, saya membuka handphone. Ada notif
dari teman saya, dia bertanya, “Irma, lulus ndak?” otomatis saya langsung
kaget. Bukannya pengumuman masih besok? Saya diberi link untuk mendownload file
pengumuman tersebut. Benar saja sangat lama karena mungkin banyak sekali yang
mengakses laman tersebut. Saya sampai naik ke lantai 2 rumah tante saya yang
gandeng dengan rumah ayah saya dan masih tetap menggunakan mukena. Pikir saya
saat itu agar download cepat selesai. Tapi sama saja. Saya juga menunggu lama.
Akhirnya file tersebut sudah ada di
HP saya. Tangan gemetar, jantung dan napas tidak bisa saya kendalikan lagi.
Terdengar berlebihan, tapi memang itu yang saya alami. Saya buka filenya.
Nama-namanya berurut A sampai Z. Langsung skrol kebawah mencari huruf I. Cari
lagi nama Irma. Ada 4 nama Irma di pengumuman tersebut. Dan dengan rasa tidak
percaya salah satunya adalah IRMA WARHAMNI FEBRIANA. It’s my name.
Kubaca berulang-ulang kupastikan itu
benar-benar nama saya. Setelah yakin, saya langsung berlari mencari ibu saya
yang sedang menonton televisi, ada ayah dan beberapa saudara saya di situ. Saya
langsung memeluk ibu saya sambil menangis. Saya bilang ke ibu saya tentang
berita bahagia ini. Ibu saya juga meneteskan air mata. Ya, kami sangat
bersyukur. Ayah saya, keluarga saya, semuanya tersenyum.
Ini semua tak lepas dari dukungan dan
doa-doa dari orang tua, keluarga, guru SMK, guru SMP, sahabat-sahabat saya,
teman-teman saya, dan orang-orang di sekeliling saya.