Rabu, 19 September 2018

Alhamdulillah !!! PKN STAN 2017


Hallo ! Assalamualaikum ^_^ Izin memperkenalkan diri nama saya Irma Warhamni Febriana, kelahiran 9 Februari 1999. Saya lahir dan besar di Kabupaten Magetan, salah satu kota wisata di Jawa Timur. Dari TK sampai SMK (iya, saya lulusan SMK jurusan Akuntansi) bersekolah di sekitar sini saja, tak jauh-jauh. Keluarga saya sederhana, dan saya bahagia bisa terlahir di keluarga ini.
Banyak yang meminta saya untuk menceritakan pengalaman bagaimana saya berjuang sampai lulus USM PKN STAN , baik melalui DM IG, chat WA, LINE, dan bahkan FB (FB yang sangat jarang saya buka). Baiklah, langsung saja. Masih sangat saya ingat, saya mendaftar PTK (khususnya PKN STAN) pada tanggal 10 Maret 2017 pukul 12:27:31
Oiya, pas tahun 2017 untuk jadwal pendaftarannya :


Tanggal 10 Maret 2017 kan udah daftar nih, terus isi formulir pendaftaran online melalui situs PKN STAN. Dannnnnn ini dia BPO saya :
Zaman saya pendaftaran masih bisa milih sampai 9 pilihan, beda dengan tahun 2018 yang hanya bisa milih 3 aja. Lanjut setelah mendapat BPO langsung bayar ke bank Mandiri memakai kode MVA yang ada di BPO. Nah, kan pendaftaran paling lambat 31 Maret 2017 pas buka webnya panselnas total pendaftar di PKN STAN ada 166315 :” hm, bikin down? Engga kok, karena wajar banyak. Tiap tahun juga banyak gitu kok.


Pada bulan Januari atau Februari ya saya lupa, ada salah satu bimbel khusus untuk masuk PKN STAN yang promosi gitu, saya sama ibu saya datang ke salah satu hotel di Magetan, tempat diadakannya semacam seminar untuk promosi itu. Awalnya mereka nampilin gimana sih kuliah di PKN STAN, akan jadi apa nanti kalau lulus, berapa besar gajinya,pokok semua yang menggiurkan tentang PKN STAN. Otomatis saya dan ibu saya cukup tergiur lah ya. Diakhir acara ditampilin program-program bimbelnya beserta harga yang subhanallah sekali :” . Saya pengen daftar, ibu saya juga pengen daftarin saya, tapi keputusan ada di tangan abang saya karena abang saya yang bekerja untuk keluarga saya. Saya chat WA ke abang saya tapi tidak kunjung dibalas, okelah pesen kursi dulu bayar 50 ribu.
Sesampainya di rumah saya ketemu abang saya langsung, dan dengan sedikit sedih sih abang saya bilang belum ada uang sebanyak itu untuk biaya bimbel tahun ini. “Kalau mau ya tahun depan, tahun ini nyoba saja dulu abang yakin kamu pasti bisa,” kata abangku gitu. Kecewa sedikit sih, tapi ya maua bagaimana lagi. Baiklah saya percaya kata-kata abang saya kalau saya bisa walaupun belajar sendiri.
Beberapa hari kemudian, putra dari guru SMK saya yang 2016 wisuda D3 Akuntansi PKN STAN menawarkan buku latihan soal untuk USM PKN STAN. Harganya hanya Rp35.000,- Saya dan beberapa teman saya pun memesan buku itu.
Selang beberapa hari bukunya sudah dibawakan ke sekolah. Penasaran sekali dengan isinya, saya buka dan baca-baca. Di halaman awal-awal seperti biasa banyak tips-tips dan sebagainya. Setelah itu ada bebrapa paket latihan soal TPA dan TBI. Ya, hanya buku ini yang saya beli untuk menunjang persiapan USM PKN STAN 2017.
Saya juga pernah mengikuti tryout yang diadakan oleh lembaga bimbingan belajar asal Jawa Tengah (beda dengan yg seminar tadi) lokasi tryoutnya di daerah Madiun. Bulan apa saya lupa. Sepertinya sebelum saya punya buku USM itu. Saya datang ke lokasi bareng dengan teman saya (teman saya ini sebenarnya hanya menemani karena dia tidak minat kuliah, tapi alhamdulillah Oktober 2017 teman saya ini diterima di Bintara TNI AU). Saya mengerjakan asal-asalan dan bahkan tidak ada yang kosong padahal ada nilai minusnya kalau salah :v  begitu juga teman saya ini. Selang beberapa hari pengumuman tryout keluar dannnnnn saya tidak lolos nilai mati. Sedih? Tidak. Malah jadi motivasi saya untuk belajar.
Persiapan antara Ujian Sekolah, Ujian Praktik, Ujian Nasional, USM PKN STAN, dan SBMPTN (untuk cadangan,hehe) sangat-sangat memusingkan kalau dipikir. Tapi ya kalau dikerjakan ngga pusing pusing banget kok. Kalau menurut saya pribadi, saya lebih memfokuskan prioritas. Prioritas saya adalah semua harus maksismal. Jadi saya fokus ke satu demi satu ujian. Sesuai urutan jadwal. Harusnya saya sambil nyicil belajar untuk USM, tapi tidak (jangan ditiru ya). Saya rasa juga persiapan USM saya sangat-sangat minim. Saya belajar ketika selesai UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Sebelumnya? Sebelumnya mungkin buku itu hanya saya buka sesekali.
Karena nomor urut BPO saya 681, maka saya harus pergi ke Surabaya untuk verifikasi berkas pada tanggal 21 Maret 2017, ya hari pertama. Saya ke Surabaya bertiga dengan dua teman saya yang mendapat jadwal sama.
 Kami naik travel karena belum tau caranya naik bus,hehe. Sampai di GKN Surabaya jam 5 pagi, masih subuh :” Kami bertiga shalat subuh di mushala GKN, setelah itu cuci muka dan menyantap bekal sarapan kami. Sebelum makan kami sudah ambil nomor antrean pada saat itu.
            Tebak saya yang mana? :D Iya saya yang tengah yaa... Kami tidak mengantre begitu lama karena mendapat nomor antrean masih belasan. Sekitar jam 9 kami bertiga sudah selesai. Kami menghubungi travel yang akan membawa kami pulang. Kami menunggu lama sampai jam 2 siang :” . Baiklah tidak apa-apa sesekali menunggu :) .
Saya SMK jurusan Akuntansi, tapi saya lebih suka Matematika :) . Disitulah kekuatan saya, saya mengandalkan nilai TPA. TBI? Momok bagi saya sebenarnya. Akhirnya karena keterbatasan saya di TBI saya pun les di tetangga (guru SD yang buka les-lesan khusus bahasa Inggris semua tingkat) H-seminggu. Namanya Pak Sis. Pak Sis baik sekali dengan saya. Beliau mengajari saya TBI, latihan soal-soal dsb, secara gratis. Waktu itu keadaan ekonomi keluarga benar-benar menipis ditambah lagi harus keluar biaya untuk ke lokasi USM di Surabaya.
USM PKN STAN 2017 diadakan pada tanggal 23 April 2017 (mundur seminggu dari jadwal). Saya dan teman saya lokasi ujiannya di UNTAG Surabaya. Saya berangkat pada 22 April 2012 bareng seorang teman saya naik bus selama 5 jam kalau tidak salah dan turun di Terminal Bungurasih Surabaya. First time kami naik bus ginian (bus yang bukan bus pariwisata) >.< . Di terminal kami menunggu selama 2 jam. Menunggu saudara saya (Pak Dhe) yang akan kami tumpangi rumahnya.
Malamnya, kami belajar hanya review saja sedikit. Alasannya sudah lelah belajar, hehe. Langsung tidur agar besok siap sedia.
Pagi sekali sekitar jam 5 kami sudah siap dengan setelan hitam putih. Kami diantar oleh Pakdhe saya ke lokasi ujian. Kurang 2 km sampai tapi jalanan malah macet :” deg-deg an sih karena kami belum tau ruang dan meja kami. Akhirnya sampai juga di lokasi, dan kami salah gedung. Bayangkan betapa bingungnya kami. Kami bertanya ke entah siapa kami tidak kenal dan lantas diarahkan ke gedung seberang jalan. Setelah berterimakasih kami lari dong, takut telat.
Sesampainya di ruangan yang sangat besar, semacam aula mungkin, kami bingung mencari meja kami yang sesuai dengan BPU milik masing-masing. Alhamdulillah beberapa saat kemudian ketemu. Meja saya dan teman saya agak jauh jaraknya, tapi sama-sama urutan ketiga dari depan (kalau tidak salah). Sebelah kiri saya sudah ada seorang laki-laki yang tidak saya kenal, sementara sebelah kanan saya masih kosong. Penasaran lantas saya baca namanya. Ternyata pemilik nama itu adalah teman dekat saya juga di sekolah. Tapi dia belum sampai. Beberapa saat kemuadian dia sampai dan kami sedikit berbincang. H-beberapa menit kami memutuskan untuk berwudhu agar ujian kami lebih lancar. Pergilah kami ke toilet ruang itu. Antreannya panjang sekali :( Dan kami putuskan untuk tayamum saja karena waktunya juga sudah mepet. Kemudian kami kembali ke meja kami masing-masing.
Akhirnya ujian akan dimulai, doa-doa saya lantunkan terus menerus sembari mendengarkan panitia membacakan peraturan. Lembar jawaban dan naskah soal dibagikan. Saya isi identitas di lembar jawaban dengan sangat hati-hati. Selanjutnya saya kerjakan soal-soal TPA sampai waktu habis. Selanjutnya panitia membagikan soal TBI. Saya kerjakan semampu saya, hanya saya jawab yang saya yakini benar, tidak semua saya jawab.
Berikut penampakan naskah USM yang saya foto ketika ujian telah usai (naskah soal saat itu boleh dibawa pulang).
 

Akhirnya pada tanggal berapa saya lupa, pokok awal Mei 2017, pengumuman kelulusan tahap 1 keluar. Deg-degan sekali bukanya. Alhamdulillah atas izin Sang Maha Kuasa nama saya tertulis di pengumuman tersebut.
Di situ tertera jadwal TKK (Tes Kesehatan dan Kebugaran) saya pada 8 Mei 2017. Selama menunggu pengumuman tersebut saya sudah mempersiapkan diri. Olahraga tiap siang didampingi teman saya (dia juga persiapan untuk masuk bintara saat itu), dia bilang harus siang hari biar tubuh kuat. Saya percaya dan iyakan saja. Saya utamakan menguatkan lari selama 12 menit karena itu yang cukup berat menurut saya di TKK ini. Selain berolahraga, selama beberapa hari, di rumah saya minum jamu, telur ayam kampung dicampur madu, untuk menambah stamina.
H-1 TKK saya pergi ke Surabaya seorang diri (teman saya yang kemarin bareng belum beruntung, dan yap saya harus mulai berani,hehe). Saya menginap di rumah pakdhe saya lagi. Esoknya saya berangkat pukul 5 dan sampai di lokasi (Universitas PGRI Adi Buana Surabaya Kampus Menanggal) sekitar setengah 6. Masih sangat pagi bukan? Tapi ternyata saya mendapat nomor antrean 100 :”

Saya menunggu beberapa jam, lumayan lama. Hm, maklum hari pertama. Akhirnya tibalah giliran saya untuk cek kesehatan. Pertama TB dan BB, tensi, nadi, mata (minus atau tidak), dan tes buta warna. Kedua harus mengantre lagi untuk masuk bilik-bilik. Saya dipanggil dan disuruh masuk ke salah satu bilik yang kosong. Disana saya disuruh buka jilbab (dokter dan yang ngebantu dokternya wanita juga kok). Kemudian dokter mulai mengecek semuanya. Telinga, mulut, gigi, tenggorokan, mata, perut, varises, hemoroid, dan kulit. Itu yang saya ingat. Setelah itu dokter menuliskan hasilnya di selembar kertas. Saya merapikan jilbab lalu keluar bilik dan menyerahkan lembar hasil pemeriksaan ke petugas yang ada. Alhamdulillah saya lolos cek kesehatan dan diperbolehkan untuk mengikuti tes kebugaran.
Saya dan beberapa peserta lain dibimbing oleh seorang pantia ke lapangan tempat tes kebugaran. Sesampainya di lapangan kami diberi rompi bertuliskan angka masing-masing berbeda. Kami melakukan pemanasan bersama. Setelah itu kami berbaris di garis start. Posisi siap untuk berlari. Panitia memberi aba-aba. Apa kabar jantung? Jangan ditanya lagi. Deg-degan gitulah. Tapi sesegera saya menenangkan diri sambil terus berdoa. Peluit dibunyikan kami semua mulai berlari. Strategi saya seperti yang lain. Tidak lambat juga tidak cepat tapi konsisten. Beruntungnya saya saat itu jam 11 siang di Surabaya :” panas sekali. Sampai-sampai saya terbakar semangat. Saat berlari yang saya pikirkan hanya senyum ibu saya dan senyum ayah saya. Sudah. Sambil terus berdzikir. “Waktu tinggal satu menit,” teriak salah satu panitia menggunakan megaphone. Sontak membuat saya menambah kecepatan. 11 menit telah berlari di teriknya panas matahari. Satu menit ini tidak akan saya sia-siakan. Saya berlari sekuat tenaga, mengabaikan kaki yang meronta minta istirahat. Peluit dibunyikan tanda waktu habis. Kami diminta melepaskan rompi yang kami pakai di tempat berdiri kami sekarang. Oiya, pada saat setiap melewati garis start tadi kami harus meneriakkan nomor rompi kami. Mungkin panitia menggunakannya untuk menilai kekonsistenan kita dalam berlari. Tapi kebenarannya saya tidak tahu karena hanya panitia dan Tuhanlah yang tahu penilaian USM PKN STAN zaman saya :D beda dengan zaman sekarang yang nilainya langsung keluar. Jadi sampai sekarang saya juga tidak tahu berapa nilai TPA dan TBI saya.
Setelah beristirahat dan minum air mineral di tenda yang disediakan panitia, kami memulai tes selanjutnya yaitu shuttle run,lari membentuk angka 8 sebanyak tiga kali. Berapa detik saya melakukannya? Saya sampai sekarang juga tidak tahu. Pada saat itu saya bertanya ke panitia yang mengukur kecepatan saya dan beliau hanya tersenyum menjawab, ”Sudahlah, aman” Misterius sekali. Setelah itu saya beristirahat di masjid setempat dan kebetulan sudah memasuki waktu zuhur sekalian saya menunaikan shalat zuhur di situ. Setelah selesai saya langsung pulang ke rumah pakdhe.
Delapan hari kemudian, tepatnya hari Selasa tanggal 16 Mei 2017, saya pergi ke Surakarta untuk mengikuti SBMPTN. Ya, lagi-lagi seorang diri (naik bus). Bagimana persiapan SBMPTN saya? Seadanya. Benar – benar seadanya karena waktunya mepet dengan TKK kemarin. Seminggu persiapan dengan baca-baca PDF yang bertebaran di grup-grup pejuang SBMPTN 2017 :D Hanya itu. Beli buku? Tidak,hehe.
Pada akhir Mei, lupa tanggal berapa, pengumuman tahap 2 keluar. Benar benar benar benar tidak menyangka di situ ada nama saya :” saya sangat bersyukur. Saya mendapatkan jadwal SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) lagi lagi pada hari pertama.

            Saya pergi ke Surabaya seperti biasa, naik bus dan menginap di rumah Pakdhe. Saat itu pas puasa juga, tapi ya tetep harus puasa. Jangan sengaja dibolongin Cuma gara-gara mau ujian :)
            Pagi berangkat jam 5, tetap seperti biasa. Tempatnya sama seperti ketika verifikasi berkas, di GKN Surabaya. Saya dan semua peserta lainnya masuk ke suatu ruang untuk registrasi dan diberi pengarahan. Oiya, bagaimana persiapan saya? Saya banyak mencari dan belajar materi di internet serta PDF yang bertebaran di grup-grup pejuang STAN 2017 :D Beli buku? Tidak.
            Setelah memasuki waktu tes kami masuk ke ruangan yang penuh dengan komputer, ya karena SKD kan online tesnya. Kebetulan saya kebagian meja pojok belakang. Tidak apa-apa. Saya membuat diri saya ssenyaman mungkin dan tak lupa terus berdoa. Sesuai arahan panitia, saya mulai mengisi biodata dan menjawab soal demi soal. Setiap akan meng-klik jawaban, saya selalu baca bismillah. Ada 3 macam soal yaitu TIU ( Tes Intelegensi Umum), TWK (Tes Wawasan Kebangsaan), dan TKP (Tes Karakteristik pribadi). TIU dan TKP masih bisa lah ya. Nah pas TWK? Subhanallah soalnya :” Melenceng dari materi yang saya baca. Apa yang saya perbuat? Setiap akan menjawab 1 soal saya membaca surah al-fatihah (dengan cepat).
            Saya telah menjawab semua soal, waktu masih tersisa. Depan saya, seoarang peserta laki-laki tiba-tiba menghela napas panjang dan seperti orang lemas. Saya jadi deg-degan akan meng-klik pilihan selesai. Saya baca banyak-banyak doa dulu, lalu saya klik selesai. Skor keluar. Mata saya berkaca-kaca. Nilainya diluar perkiraan saya. Alhamdulillah lulus nilai mati, lumayanlah.
            Ternyata di luar ada layar yang memampangkan nilai para peserta. Pakdhe saya yang menunggu saya diluar tanpa saya beritahu sudah tahu nilai saya. Pakdhe memberi selamat kaera lulus nilai mati. Yaa,walaupun belum tentu lulus perankingan nasional paling tidak masih ada harapan. Saya masih sangat beruntung karena ada yang gagal ditempat, pasti sangat menyakitkan.
            Setelah sekian lama saya menunggu, akhirnya pada hari Selasa tanggal 13 Juni 2017 pengumuman untuk hasil SBMPTN. Sementara PKN STAN masih besok Jumat tanggal 16 Juni 2017. Jam 14:00 saya mengakses laman resmi SBMPTN untuk melihat pengumuman, dan hasilnya adalah :

            Benar-benar alhamdulillah :”

            Kamis, 15 Juni 2017 sekitar pukul 6 sore kurang, saya menunaikan shalat maghrib. Setelah selesai, entah beda dari biasanya, saya belum melepas mukena saya, saya membuka handphone. Ada notif dari teman saya, dia bertanya, “Irma, lulus ndak?” otomatis saya langsung kaget. Bukannya pengumuman masih besok? Saya diberi link untuk mendownload file pengumuman tersebut. Benar saja sangat lama karena mungkin banyak sekali yang mengakses laman tersebut. Saya sampai naik ke lantai 2 rumah tante saya yang gandeng dengan rumah ayah saya dan masih tetap menggunakan mukena. Pikir saya saat itu agar download cepat selesai. Tapi sama saja. Saya juga menunggu lama.
            Akhirnya file tersebut sudah ada di HP saya. Tangan gemetar, jantung dan napas tidak bisa saya kendalikan lagi. Terdengar berlebihan, tapi memang itu yang saya alami. Saya buka filenya. Nama-namanya berurut A sampai Z. Langsung skrol kebawah mencari huruf I. Cari lagi nama Irma. Ada 4 nama Irma di pengumuman tersebut. Dan dengan rasa tidak percaya salah satunya adalah IRMA WARHAMNI FEBRIANA. It’s my name.
Kubaca berulang-ulang kupastikan itu benar-benar nama saya. Setelah yakin, saya langsung berlari mencari ibu saya yang sedang menonton televisi, ada ayah dan beberapa saudara saya di situ. Saya langsung memeluk ibu saya sambil menangis. Saya bilang ke ibu saya tentang berita bahagia ini. Ibu saya juga meneteskan air mata. Ya, kami sangat bersyukur. Ayah saya, keluarga saya, semuanya tersenyum.
Ini semua tak lepas dari dukungan dan doa-doa dari orang tua, keluarga, guru SMK, guru SMP, sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, dan orang-orang di sekeliling saya.